209 words
1 minute
Boleh juga framework ini

Oke… cukup memuaskan.
Ini adalah lanjutan post sebelumnya, saya mempelajari framework baru: Astro.


Setelah post sebelumnya selesai ditulis, tentu langkah berikutnya adalah:
mencoba langsung.

Aku mulai dari hal paling klasik—buka dokumentasi resmi Astro.
Tampilannya bersih, tidak ribet, dan yang paling penting: jelas.
Tidak terlalu banyak asumsi aneh, tidak langsung dilempari istilah yang bikin pusing.

Mengikuti Dokumentasi (Dengan Otak Setengah Fokus)#

Aku mengikuti langkah-langkah di dokumentasi:

  • install,
  • init project,
  • jalankan dev server,
  • dan… halaman default Astro muncul.

Sederhana, cepat, dan tidak ada drama.

Di titik ini aku mulai sadar satu hal:
Astro tidak mencoba terlihat “wah”.
Dia cuma fokus bekerja dengan baik.

Tapi tentu saja, blog tanpa tampilan itu seperti nasi tanpa lauk.
Bisa dimakan, tapi rasanya hambar.

Mulai Otot-atik#

Setelah paham struktur dasarnya:

  • folder src,
  • layout,
  • markdown post,

aku mulai berpikir:

“Oke, ini bisa. Tapi masa iya desainnya dari nol?”

Aku bukan desainer UI.
Aku tahu batas kemampuanku.

Untungnya, Astro punya ekosistem theme yang cukup ramah.
Dan di sinilah aku mulai berburu template gratis.

Ketemu yang Cocok#

Setelah scroll sana-sini, bandingkan beberapa opsi, akhirnya aku nemu satu theme yang langsung terasa klik:

Twilight.

Sederhana. Gelap. Tenang. Tidak berisik.

Tidak mencoba terlalu keras untuk terlihat “modern”,
tapi tetap enak dilihat dan fokus ke konten—persis seperti yang aku cari.

Di titik ini aku cuma mikir:

“Oke, ini bisa jadi rumah.”


Di post selanjutnya, aku akan mulai membahas bagaimana rasanya memakai theme Twilight ini: struktur, kesan pertama, dan kenapa menurutku cocok untuk blog personal seperti ini.

Untuk sekarang, cukup segini dulu.

Boleh juga framework ini
https://twilight.spr-aachen.com/posts/learnignastro/
Author
ghaisanghaisan
Published at
2025-12-29
License
CC BY-NC-SA 4.0

Some information may be outdated